SULUR, ANTARAKITA.CO.ID – Sabtu pagi (1/8) yang cerah mendadak menegangkan bagi awak dan penumpang KA 263 Ambarawa Ekspres relasi Surabaya Pasarturi–Semarang Poncol. Laju si ular besi itu terhenti mendadak di KM 50+0/1, petak jalan antara Stasiun Doplang dan Stasiun Sulur, setelah dihantam insiden tak terduga.
Sekitar pukul 09.00 WIB, sebuah truk nekat melintas di perlintasan sebidang (JPL 80) yang dijaga warga secara swadaya. Brak! Benturan tak terelakkan.
Benturan keras itu memaksa KA Ambarawa Ekspres Berhenti Luar Biasa (BLB). Di tengah situasi darurat, Awak Sarana Perkeretaapian (ASP) bergegas turun memeriksa kondisi sarana. Beruntung, seluruh awak rangkaian dilaporkan selamat tanpa cedera. Namun, si ‘kuda besi’ tak lagi mampu menarik gerbongnya.
“Hasil pemeriksaan awal menunjukkan selang air brake pada lokomotif patah akibat benturan. Kondisi ini membuat kereta api sama sekali tidak bisa melanjutkan perjalanan demi keselamatan,” terang Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif.
Penyelamat dari Depo Poncol
Tak ada pilihan lain. Kereta tak boleh dipaksakan bergerak tanpa sistem pengereman yang sempurna. KAI Daop 4 Semarang pun bergerak cepat mengirimkan lokomotif penolong dari Depo Lokomotif Semarang Poncol untuk mengevakuasi rangkaian.
Prosedur evakuasi, penggantian lokomotif, hingga uji teknis berlangsung ekstra ketat di Stasiun Sulur. Setelah dipastikan seluruh sistem keselamatan bekerja 100 persen, barulah siulan klakson lokomotif pengganti terdengar melengking. Pukul 10.20 WIB—setelah tertahan sekitar 80 menit—KA Ambarawa Ekspres akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya menuju Semarang.
Pihak manajemen KAI Daop 4 Semarang menyampaikan permohonan maaf yang mendalam atas ketidaknyamanan yang dialami para penumpang.
“Keselamatan perjalanan kereta api adalah harga mati. Penanganan kami lakukan ketat sesuai prosedur. Kami memohon maaf kepada seluruh pelanggan Ambarawa Ekspres yang perjalanannya terganggu,” ujar Luqman.
Dilema Perlintasan Swadaya dan Langkah Preventif
Tragedi nyaris di JPL 80 ini kembali menjadi tampar keras bagi kesadaran berlalu lintas, khususnya di perlintasan sebidang tanpa pintu perlintasan resmi.
Luqman menegaskan, pihak KAI tak pernah berhenti melakukan upaya preventif. Sepanjang Januari hingga Juli 2026 saja, Daop 4 Semarang mencatat telah menggelar 216 kali sosialisasi di perlintasan sebidang dan 21 kali edukasi ke sekolah-sekolah. Tak hanya itu, 14 titik perlintasan liar yang membahayakan juga telah ditutup permanen.
Namun, upaya teknis dan sosialisasi dari KAI tak akan pernah cukup jika para pengguna jalan masih suka ‘menjajal keberuntungan’ di perlintasan kereta.
“Kami ingatkan kembali, aturan dasarnya jelas: kereta api selalu memiliki prioritas utama. Pengguna jalan wajib berhenti sejenak, tengok kanan dan kiri, pastikan aman baru melintas. Jangan berspekulasi dengan nyawa,” tegas Luqman menutup keterangannya. (*)











