SORONG, ANTARAKITA.CO.ID – Kalau Anda mengira anak-anak muda di Sorong, Papua Barat Daya, sepi peminat terhadap dunia industri modern, Anda salah besar. Justru sebaliknya, antusiasmenya luar biasa tinggi. Berebut. Ketat sekali.
Buktinya ada pada program Papua Field Academy (PFA). Ini program besutan PT Pertamina EP (PEP) Papua Field, bagian dari Zona 14 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina.
Bayangkan saja. Begitu PFA membuka kategori perdana khusus untuk tingkat mahasiswa, pendaftarnya langsung membeludak. Ada 322 mahasiswa dari berbagai kampus di Sorong yang menyodorkan berkas.
Tapi, kursi yang tersedia sangat terbatas. Hanya mereka yang terbaik dari yang terbaik yang bisa lolos. Setelah melalui proses kurasi dan seleksi yang super-ketat, akhirnya terpilihlah 23 mahasiswa.
Mereka inilah yang resmi dikukuhkan pada Kamis, 11 Juni 2026 lalu, bertempat di Kantor Pertamina EP Papua Field, Sorong.
Bagi Pertamina EP Papua Field, urusan membangun sumber daya manusia (SDM) lokal Papua ini memang bukan proyek instan. Bukan pula sekadar pemenuhan tanggung jawab sosial yang formalitas. Ini adalah komitmen berkelanjutan yang dirancang matang dari Februari hingga September 2026.
Sebelum menyasar level mahasiswa, PFA sudah bergerak lebih dulu. Februari 2026: Resmi diluncurkan untuk menyasar pelajar berprestasi tingkat SMA/SMK.
Fase Berikutnya: Dilanjutkan untuk meningkatkan kompetensi Tenaga Kerja Jasa Penunjang (TKJP).
Juni 2026: Kini, giliran kalangan akademisi (mahasiswa) yang mendapat panggung.
Jadi, program ini menyisir rapi semua lini. Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, pekerja penunjang, hingga pekerja internal perusahaan itu sendiri. Tujuannya satu: menciptakan ekosistem talenta lokal yang kuat.
Menyiapkan Talenta “Siap Pakai”. Wajar jika General Manager Zona 14, Indarwan Harsoni, tersenyum lebar saat membuka acara. Dia mengaku sangat bangga melihat atmosfer kompetisi yang sehat di kalangan generasi muda Sorong.
“Kami sangat senang menerima adik-adik mahasiswa yang berprestasi, setelah melalui kurasi dari pendaftar sebanyak 322 orang. Program PFA ini adalah wadah yang kami siapkan untuk membentuk talenta muda yang siap pakai. Kami berharap adik-adik bisa memanfaatkan momentum ini dengan maksimal,” tegas Indarwan dalam arahannya.
Kata kuncinya jelas. Siap pakai.
Dunia kampus sering kali dikritik karena jaraknya yang terlalu jauh dengan realitas industri. Nah, PFA hadir untuk menjembatani jurang pemisah tersebut.
Begitu program dibuka, ke-23 mahasiswa terpilih ini tidak langsung disuguhi teori-teori rumit yang bikin pusing. Mereka justru langsung diberi “nutrisi” mental melalui sharing session yang taktis. Pematerinya pun bukan kaleng-kaleng, melainkan Ardi, Manager Field Papua sendiri.
Topik yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan mereka. “Sukses Kuliah, Sukses Organisasi, Sukses Raih Cita”.
Di sesi ini, Ardi blak-blakan memotivasi para peserta tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara indeks prestasi kumulatif (IPK) di atas kertas dengan kematangan emosional di organisasi. Dua hal itu adalah modal utama jika ingin memenangkan persaingan di masa depan.
Apa saja yang akan didapatkan ke-23 mahasiswa beruntung ini selama mengikuti Papua Field Academy? Banyak sekali. PFA sudah mengintegrasikan kurikulumnya secara komprehensif.
Pengenalan mendalam industri minyak dan gas (migas). Sesi motivasi berkala. Pelatihan teknis. Sertifikasi kompetensi resmi.
Dan ini yang paling menarik, semacam golden ticket. Pertamina membuka peluang besar bagi para peserta terbaik untuk langsung mencicipi pengalaman magang (internship) di lingkungan operasi Pertamina EP Papua Field.
Melalui ekspansi program ke level perguruan tinggi ini, PEP Papua Field sedang menanam saham jangka panjang. Mereka tidak hanya sedang mengebor minyak bumi untuk ketahanan energi hari ini, tetapi juga sedang “mengebor” potensi intelektual anak-anak muda Papua agar siap menjadi penggerak industri energi dan pembangunan nasional di masa depan.
Bagi 23 mahasiswa Sorong, selamat belajar di ‘kawah candradimuka’ Pertamina! (*)











