ANTARAKITA.CO.ID, BOGOR – Sabtu malam. Di sebuah warung angkringan di Bogor. Asap teh hangat masih mengepul dari cangkir. Di meja kayu sederhana itu, Ares Munandar duduk santai.
Tidak ada meja kantor yang mentereng. Tidak ada AC dingin. Tapi justru dari sana sebuah komitmen besar diucapkan. Ares resmi menjabat Bendahara Umum Brigade Prabowo 08 (BPP 08).
Tugas berat? Pasti. Mengelola keuangan organisasi besar tentu bukan urusan sepele. Salah kelola sedikit, pusingnya bisa berhari-hari.
Tapi Ares tampak tenang. Di depan para kader dan warga yang sedang asyik “nge-teh bareng”, ia langsung to the point. “Siap. Saya bertanggung jawab,” tegasnya.
Prinsipnya sederhana tapi menohok. Ada tiga jurus utama yang bakal ia dorong di BPP 08.
Pertama, Transparansi. Bagi Ares, keuangan organisasi itu harus bening seperti air di pegunungan. Tertib administrasi. Transparan. Setiap rupiah harus jelas juntrungannya. Dari mana datangnya dan ke mana perginya. Kalau keuangannya rapi, publik percaya, pemerintah pun respek.
Kedua, Payung Hukum. Organisasi kalau mau geraknya lincah, hukumnya harus beres dulu. Jangan sampai di tengah jalan tersandung legalitas. BPP 08 harus punya benteng hukum yang kuat. Bukan cuma buat pengurus pusat, tapi juga buat membentengi kader-kader di daerah agar bisa bekerja dengan tenang dan aman.
Ketiga. Ekonomi Kerakyatan. Ini yang paling menarik. Ares tidak ingin BPP 08 cuma sibuk berwacana politik. Harus ada wujud nyatanya buat perut masyarakat. Caranya? Sinergi dengan UMKM, koperasi, dan pelaku usaha. Bikin lapangan kerja baru. Hidupkan ekonomi riil.
Yang bikin saya angkat topi, cara Ares menyerap aspirasi. Ia tidak mau hanya duduk manis mendengarkan laporan dari balik meja kerja. Ia justru memilih nongkrong di angkringan. Ngobrol santai sambil minum teh. Tanpa sekat. Tanpa kekakuan formalitas.
Sebab, dari warung kopi dan meja angkringan itulah suara rakyat yang sesungguhnya paling jujur terdengar. Ide-ide segar sering kali muncul bukan di ruang rapat yang dingin, tapi dari obrolan hangat di pinggir jalan.
Kini, tugas baru sudah menanti. Langkah awal sudah diayunkan dari meja angkringan. Organisasinya kuat, hukumnya tertib, ekonominya jalan.
Sederhana, tapi telak. Kita tunggu saja gebrakan berikutnya. (*)











