BLORA, ANTARAKITA – Blora itu unik. Daerahnya kering, jatinya kondang, minyak dan gasnya melimpah. Tapi kalau Anda pikir Blora cuma soal kayu dan tambang, Anda ketinggalan kereta.
Sabtu lalu, Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman boyongan ke Malang. Bukan untuk piknik. Beliau memboyong rombongan kepala dinasnya menuju Kampus Universitas Islam Malang (UNISMA). Maksudnya satu: tanda tangan nota kesepahaman (MoU). Mengaitkan masa depan Blora dengan kampus penjelajah ilmu itu.
Rektor UNISMA, Prof. Dr. H. Junaidi, menyambutnya hangat. Boleh jadi Pak Rektor tahu. Blora hari ini bukan Blora yang dulu lagi.
Bupati Arief pun pamer data. Dan datanya memang bikin terperanjat.
Tahun 2025 lalu, Blora memanen 530 ribu ton Gabah Kering Giling. Naik seperempatnya, 25 persen dari tahun sebelumnya. Berasnya melimpah sampai 305 ribu ton. Jagungnya? 482 ribu ton. Karena perut orang Blora tak sanggup menghabiskannya sendiri, jagung-jagung itu membanjiri industri pakan ternak di seluruh Jawa Tengah.
Belum lagi soal sapi. Blora itu rajanya sapi di Jawa Tengah. Di tingkat nasional, ia memegang mahkota juara dua.
Tapi Bupati Arief tahu persis: sapi yang banyak itu punya konsekuensi. Kotorannya.
Nah, di sinilah letak cerdiknya Blora. Sejak 2023, mereka membikin gerakan yang namanya unik. GASEKU. Singkatan dari Gerakan Sejuta Kotak Umat. Limbah tahi sapi yang dulunya dibuang begitu saja, diubah jadi pupuk organik bermutu tinggi. Tanah Blora yang tadinya lelah dihajar pupuk kimia, kini mulai bernapas lega. Hasil panen naik, kantong petani makin tebal, lingkungan jadi bersih.
Inovasi itu bahkan menyabet penghargaan Innovative Government Award (IGA) dari Kemendagri. Sampai tahun 2026 ini, sudah ada 1.124 kotak pupuk yang menghasilkan 1.465 ton pupuk organik. Malah sudah ada kelompok tani yang sukses jualan beras organik dengan harga aduhai.
Arief Rohman sadar diri. Mengurus Blora tidak bisa pakai gaya single fighter. Angka stunting harus ditekan, kemiskinan harus dikikis, dan SDM harus disuntik daya saing. “Gak bisa jalan sendiri,” kira-kira begitu filosofinya. Kampus harus turun gunung. Riset riset akademisi harus dibumikan di tanah Blora.
Bukan cuma untuk petani dan regenerasi Petani Milenial. Bupati Arief juga melirik para ASN-nya. Beliau menyodorkan program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dari UNISMA. Maksudnya terang, para PNS di Blora bisa kuliah S1 atau S2 tanpa perlu meninggalkan bangku kerjanya. Pengalaman kerja mereka diakui sebagai SKS. Kerja tetap jalan, otak makin cerdas, pelayanan publik makin jos.
Di bidang pendidikan karakter, Blora pun punya taji. Mereka bikin program Sekolah Sisan Ngaji (SSN). Sekolah jalan, ngaji tak ketinggalan. Hasilnya? Juara I Nasional Anugerah Tanda Cinta PAI 2025 dari Kemenag.
Langkah Blora ini seperti jurus pencak silat yang terukur. Mengawinkan potensi lokal, teknologi pertanian, dan bobot akademis Perguruan Tinggi.
Tinggal kita tunggu hasilnya nanti: apakah MoU di Malang ini akan benar-benar mekar menjadi pupuk, beras, dan ilmu yang menyejahterakan rakyat Blora?
Kalau melihat semangat Bupatinya, rasanya jawabannya: Harus! (*)











