ANTARAKITA.CO.ID, SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, mengajak mahasiswa Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang untuk terus memperkuat nalar kritis di tengah derasnya arus informasi digital dan kecanggihan teknologi media sosial.
Menurut Saleh, kemampuan berpikir kritis merupakan benteng utama agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi, hoaks, ancaman deepfake, hingga berbagai konten provokatif yang marak beredar di ruang siber.
Himbauan tersebut disampaikan Saleh saat menjadi narasumber dalam kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) di Auditorium Fakultas Kedokteran Kampus II Unwahas Semarang, Sabtu lalu. Acara tersebut mengusung tema “Manifesto Nalar Kritis; Kepemimpinan Mahasiswa Berbasis Aswaja dalam Menavigasi Krisis Geopolitik dan Disrupsi Global”.
Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan dan Literasi Digital
Dalam pemaparannya, Ketua DPD Golkar Jateng ini menegaskan bahwa mahasiswa dan pemuda selalu memiliki peran historis sebagai penggerak perubahan dalam sejarah bangsa. Perubahan tersebut berawal dari tradisi berpikir kritis yang ditransformasikan ke dalam aksi nyata.
“Pemuda dan mahasiswa selalu menginisiasi perubahan dalam setiap perjalanan sejarah bangsa melalui nalar kritisnya yang dimanifestasikan, dinyatakan, dan diwujudkan dalam perjuangan,” ujar Saleh.
Di tengah gempuran konten digital, Saleh menilai gerakan mahasiswa menjadi tumpuan harapan masyarakat. Mahasiswa dituntut tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga tampil sebagai agen literasi yang berani menguji kebenaran informasi demi memperjuangkan keadilan sosial.
3 Langkah Melatih Nalar Kritis di Era AI dan Deepfake
Menghadapi pesatnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), deepfake, serta maraknya narasi manipulatif dari para buzzer, Saleh membagikan tiga langkah praktis bagi mahasiswa untuk menyaring informasi.
Pertama Cek Sumber Informasi: Memastikan kredibilitas media atau pihak yang mempublikasikan berita. Pahami Konteks Content: Memeriksa kesesuaian fakta dengan narasi yang diangkat. Teliti Motif Penyebaran: Menganalisis tujuan di balik viralnya sebuah konten digital.
“Tidak perlu bingung di tengah serbuan AI, deepfake, dan buzzer yang seolah-olah memberi kebenaran. Kedepankan tabayyun, urusan viral belakangan saja. Bangun kekebalan atau imunitas diri dengan nalar kritis,” tegasnya.
Nalar Kritis Berbasis Etika dan Adab Aswaja
Khusus bagi civitas akademika Unwahas yang memegang teguh nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), Saleh mengingatkan agar keberanian kritis tetap berjalan berdampingan dengan etika, kesantunan, dan adab.
“Jika nalar kritis Barat cenderung meragukan segala hal secara radikal, maka nalar kritis Aswaja meragukan segala hal secara beradab. Boleh bersikap kritis dan curiga, namun tetap harus santun,” tutup Mohammad Saleh. (*)











