BLORA, ANTARAKITA.CO.ID – Tangis itu pecah. Di Pendopo Kabupaten Blora. Rabu sore kemarin.
Itu bukan tangis sedih. Itu tangis haru. Campur bahagia. Sebanyak 247 jemaah haji yang tergabung dalam Kloter 44 baru saja turun dari bus. Kaki mereka kembali menginjak bumi sate. Setelah sebulan lebih berada di tanah suci.
Bupati Blora tersenyum lebar. Wakil Bupati juga. Jajaran Forkopimda berdiri menyambut.
Di antara wajah-wajah lelah yang bersinar itu, ada satu sosok yang langsung mencuri perhatian saat diberi mikrofon. Namanya H. Sojo. Dia perwakilan jemaah Kloter 44.
Kalimat pertamanya langsung bikin plong kuping bupati. “Perlu kita matur kepada Bapak Bupati,” kata H. Sojo.
Suaranya agak bergetar. Emosional. “Yang pertama, terima kasih sekali kepada pelayanan Pemerintah Kabupaten Blora. Ternyata di sana kita diterima itu dengan pelayanan seperti ‘raja’.” Satu pendopo riuh.
Sojo blak-blakan. Tidak ada yang ditutupi. Urusan logistik? “Alhamdulillah sekali, makannya luar biasa Pak. Enak!” tambahnya.
Di Arab Saudi, urusan perut memang krusial. Jemaah lapar, ibadah buyar. Tapi tahun ini, urusan dapur jemaah Blora rupanya mendapat nilai rapor A plus.
Bukan hanya urusan lambung. Urusan nyawa dan kesehatan juga dijaga ketat. Petugas medisnya sat set. Mereka tidak menunggu jemaah datang mengeluh.
Petugas yang jemput bola. Datang mengetuk pintu-pintu kamar pemondokan. Memeriksa tensi jemaah lansia. Memastikan yang risiko tinggi tetap aman.
Tapi, yang namanya perjalanan kolosal, ujian pasti ada. Manusia berencana, takdir yang menentukan.
Dari tiga kloter asal Blora, dinamikanya luar biasa. Ada cerita haru, ada cerita duka.
Mari kita bedah datanya. Kloter 44. Waktu berangkat jumlahnya 249 orang. Kemarin sore, yang menginjakkan kaki di pendopo berkurang dua. Jadi 247 orang. Ke mana yang dua?
Satu jemaah, Hj. Sri Wuwuh asal Doplang, meninggal dunia di sana. Husnul khatimah di tanah suci. Satu lagi, Pak Supar asal Kunduran. Beliau terpaksa ditinggal di rumah sakit Arab Saudi. Kondisi fisiknya drop. Harus dirawat intensif. Nanti, kalau sudah sehat, Pak Supar akan diangkut pulang ikut Kloter 56.
Lalu ada Kloter 45. Ini kloter paling perkasa. Paling utuh. Berangkat 354 orang, pulang pun genap 354 orang. Kompak. Tangguh.
Bagaimana dengan Kloter 46? Berangkat 185 orang, kembali 182 orang. Satu meninggal dunia atas nama Sutrisno asal Seren. Dua lagi terpaksa pindah kloter karena urusan teknis di lapangan.
Bupati Blora mendengarkan laporan itu dengan takzim. Ada rasa lega, ada rasa duka.
Ia lalu mengajak seluruh yang hadir menundukkan kepala. Mengirim doa untuk Hj. Sri Wuwuh dan H. Sutrisno. Dua warga Blora yang “pulang” ke rumah yang lebih abadi.
“Alhamdulillah jemaah Blora jadi satu tempat dengan kondisi yang baik. Pelayanannya memuaskan, ini tentunya kami ikut senang,” ujar Bupati, hangat.
Bupati juga menyelipkan doa pamungkas. “Semoga menjadi haji yang mabrur dan membawa berkah untuk Kabupaten Blora.”
Jemaah pun pulang ke rumah masing-masing. Membawa predikat baru: Haji dan Hajjah. Plus kenangan indah bahwa mereka pernah diservis seperti raja di tanah kelahiran Nabi. (*)











