Air Mata Wabup Setyorini di Puing Kebakaran Kedungtuban - Antara Kita

Air Mata Wabup Setyorini di Puing Kebakaran Kedungtuban

- Editor

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BLORA, ANTARAKITA.CO.ID – API itu datang saat manusia sedang lelap-lelapnya. Senin dini hari (8/6), sekitar pukul dua.

Di Dukuh Wadung, Desa Kedungtuban, Blora, sunyi mendadak pecah. Satiran, salah satu warga di sana, mungkin lupa. Dia tertidur saat sedang memasak nasi di dapur. Sisa api di tungku atau kompor melompat. Menjalar. Menjadi monster yang merah dan ganas.

Dalam sekejap, dua bangunan rumah Satiran ludes. Ikut terpanggang bersama warung pecel dan bengkel motornya—sumber mata pencahariannya sehari-hari. Api yang telanjur membesar tak mau berhenti di situ. Rumah milik Yuliana di sebelahnya ikut habis dilalap. Rumah Sudirman pun tak luput dari jilatan api, meski hanya sebagian.

Dua jam warga dan tim gabungan berjibaku melawan amuk api. Pukul empat subuh, api baru bisa dijinakkan. Tidak ada korban jiwa. Tapi kerugiannya mencapai Rp 275 juta. Angka yang sangat besar bagi peternak, petani, atau pedagang kecil di desa. Habis tak bersisa.

Rabu siang lalu (5/6), suasana haru biru menyelimuti bekas puing-puing gosong itu. Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, datang ke lokasi. Dia tidak sendirian. Dia seret gerbong birokrasinya. Sekda Komang Gede Irawadi, tim Baznas, hingga direksi BPR BKK Blora. Mereka menerobos debu sisa kebakaran.

Perempuan yang akrab disapa Mbak Rini itu langsung menemui para korban. Matanya berkaca-kaca. Dia pegang tangan warga yang wajahnya masih kuyu karena syok.

“Panjenengan yang sabar nggih, karena ini ujian,” kata Mbak Rini, lirih namun menguatkan.

“Yang sudah terjadi mohon diikhlaskan, diterima. Semoga panjenengan semuanya ke depan bisa lebih baik lagi.” terusnya.

Kata-kata “Sabar nggih, ini ujian” itu magis. Diucapkan oleh seorang pemimpin perempuan, rasanya seperti usapan seorang ibu pada anaknya yang sedang menangis. Menyejukkan di tengah hawa Wadung yang masih terasa panas.

Mbak Rini tahu, air mata tidak bisa membangun kembali dinding rumah yang runtuh. Maka, dia bawa “oleh-oleh” konkret.

Baznas Blora langsung mencairkan uang tunai. Satiran, yang rumah dan dua usahanya habis, mendapat Rp 7,5 juta. Dua korban lainnya masing-masing mengantongi Rp 5 juta. Ditambah paket sembako dari OPD Pemkab Blora dan santunan sosial dari BPR BKK Blora.

Cukup? Tentu belum. Membangun rumah zaman sekarang butuh biaya besar.

Tapi di sinilah indahnya hidup di desa. Di saat negara memberikan stimulan dana, masyarakat menyumbang keringat.

Kepala Desa Kedungtuban, Irwan Teguh Pamungkas, tersenyum haru melihat modal sosial warganya yang masih tebal. “Warga langsung gotong royong. Membersihkan puing-puing, membantu mendirikan kembali rumahnya,” kata Irwan dengan bahasa Jawa yang kental.

Gotong royong. Itulah “asuransi” terbaik milik orang desa. Ketika musibah datang, tetangga kanan-kiri tidak menutup pintu. Mereka mengambil cangkul, palu, dan kayu. Bekerja tanpa dibayar.

Usai menyerahkan bantuan, Mbak Setyorini berjalan meninjau tenda darurat yang didirikan BPBD Blora. Dia menyapa warga yang sedang gotong royong mengangkut sisa kayu yang menghitam.

Musibah Wadung adalah pengingat. Betapa tipisnya batas antara tawa dan tangis. Hanya karena perkara memasak nasi yang ditinggal tidur, tiga keluarga harus kehilangan tempat bernaung.

Namun, kedatangan para pejabat yang mau turun ke tanah berlumpur, ditambah kepedulian warga yang saling pikul, membuat puing-puing Wadung tidak lagi terasa terlalu kelam. Selalu ada harapan yang tumbuh di atas tanah yang habis terbakar. (*)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel antarakita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dilema Minyak Desa Gandu: Tujuh Jam Kades Tertahan di Balai Desa
Banjir Informasi Digital, Mohammad Saleh Ajak Mahasiswa Unwahas Asah Nalar Kritis
Kecelakaan Kereta Api di Sulur Hari Ini: Ambarawa Ekspres Tertemper Truk, Ini Penjelasan KAI Daop 4
AKBP Inggal Widya Resmi Jabat Kapolres Blora
Sertijab Kapolres Blora: AKBP Inggal Widya Resmi Menjabat, AKBP Wawan Andi Pamit
Pesan Menohok Sekda Komang: OPD Jangan Punya Agenda Sendiri, Harus Nyengkuyung Visi Misi Bupati Blora
Antara SiLPA Rp90 Miliar dan Air Bersih, Bupati Blora Beberkan Solusi di Paripurna DPRD
Jaksa Belum Siap, Sidang Tuntutan Kasus “Asap Sampah” Mbah Jimah Resmi Ditunda

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 04:27 WIB

Dilema Minyak Desa Gandu: Tujuh Jam Kades Tertahan di Balai Desa

Rabu, 5 Agustus 2026 - 09:16 WIB

Banjir Informasi Digital, Mohammad Saleh Ajak Mahasiswa Unwahas Asah Nalar Kritis

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:55 WIB

AKBP Inggal Widya Resmi Jabat Kapolres Blora

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:49 WIB

Sertijab Kapolres Blora: AKBP Inggal Widya Resmi Menjabat, AKBP Wawan Andi Pamit

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:20 WIB

Pesan Menohok Sekda Komang: OPD Jangan Punya Agenda Sendiri, Harus Nyengkuyung Visi Misi Bupati Blora

Berita Terbaru

Blora

Blora Incar Pasar Ekspor Pangan

Selasa, 15 Sep 2026 - 04:36 WIB

Nasional

Dari Angkringan ke Kursi Bendahara BPP 08

Sabtu, 1 Agu 2026 - 14:14 WIB