Mangrove, Plastik, dan Anak-Anak Bunyu - Antara Kita

Mangrove, Plastik, dan Anak-Anak Bunyu

- Editor

Kamis, 11 Juni 2026 - 08:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BLORA, ANTARAKITA.CO.ID – Saya selalu angkat topi kalau ada perusahaan minyak yang tidak hanya sibuk memikirkan berapa barel minyak yang bisa disedot dari perut bumi. Tapi juga memikirkan berapa banyak pohon yang harus ditanam di atas bumi.

Sabtu, 30 Mei 2026 lalu, PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field melakukan itu. Di sebuah pulau kecil di ujung utara Kalimantan: Pulau Bunyu.

Mereka tidak mendatangi pejabat. Mereka mendatangi sekolah. Tepatnya SMP Negeri 2 Bunyu. Ada 28 siswa dan 3 guru di sana. Mereka berkumpul bukan untuk mendengarkan pidato yang membosankan. Mereka diajak bicara soal masa depan bumi mereka sendiri.

Temanya keren. NowforClimate. Saatnya Bekerja untuk Iklim. Ini dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Anak-anak zaman now harus beda. Selama ini, kita diajarkan membuang sampah pada tempatnya. Itu kuno. Sekarang, polanya harus diubah: memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya. Sejak dari tangan kita sendiri.

Kalau semua sampah dibuang begitu saja, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Pulau Bunyu bisa jebol. Maka, anak-anak SMP itu diajari prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Sampah organik? Jadikan kompos.

Sampah anorganik seperti plastik? Didaur ulang. Sederhana diucapkan, tapi butuh disiplin tingkat tinggi untuk dilakukan.

“Kegiatan ini diharapkan mampu membentuk generasi muda sebagai agen perubahan (agent of change) yang membawa kebiasaan baik dalam menjaga lingkungan ke rumah dan masyarakat sekitarnya,” ujar Riza Akbar, Pjs Senior Manager Bunyu Field.

Saya setuju dengan Riza. Mengubah kebiasaan orang tua itu susahnya setengah mati. Tapi mendidik anak SMP? Mereka adalah investasi masa depan. Kalau anak-anak ini pulang ke rumah dan menegur ibunya yang membuang plastik sembarangan, itulah kemenangan kecil bagi lingkungan.

Bukan hanya soal plastik. Anak-anak Bunyu juga diajak melihat ke pantai mereka. Ada ekosistem mangrove di sana.

Bagi Pertamina, mangrove adalah infrastruktur hijau. Alami. Gratis dari Tuhan. Tugas manusia hanya merawatnya. Mangrove inilah yang melindungi fasilitas operasional pesisir mereka dari hantaman abrasi. Plus, mangrove adalah penyerap karbon alami (blue carbon) yang luar biasa tangguh.

Bagi anak-anak SMP itu? Mangrove adalah laboratorium alam. Tempat mereka belajar kepedulian ekologis. Siapa tahu, dari sana nanti lahir pengusaha-pengusaha ekonomi kreatif berbasis lingkungan.

Hebatnya, acara ini tidak berhenti di dalam ruang kelas. Selesai diskusi interaktif yang penuh dengan pertanyaan kritis dari para siswa, mereka semua turun ke lapangan. Mengotori tangan dengan tanah. Mereka menanam pohon di lingkungan sekolah. Itu baru aksi nyata, bukan sekadar teori di atas kertas. Sinergi yang Menghidupkan

Kepala Sekolah SMPN 02 Bunyu, Muhammad Nakir, tersenyum lebar hari itu. Beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pertamina. Menurut Nakir, kolaborasi seperti inilah yang dibutuhkan dunia pendidikan. Siswa tidak hanya pintar membaca buku, tapi juga paham realitas alam di sekitarnya.

PEP Bunyu Field ini memang berada di bawah Zona 10 Subholding Upstream Regional 3 Kalimantan, yang induknya adalah PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI). Operasional mereka diawasi oleh SKK Migas. Di sinilah pentingnya komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) serta Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Minyak bisa habis. Gas bisa surut. Tapi kalau lingkungan rusak, yang rugi adalah anak cucu kita di Pulau Bunyu.

Langkah PEP Bunyu ini patut dicontoh. Mengamankan energi nasional itu wajib, tetapi merawat masa depan generasi muda dan alam sekitar adalah kemuliaan.

Sore itu, setelah pohon-pohon selesai ditanam, saya bayangkan anak-anak SMP 2 Bunyu pulang ke rumah dengan senyum cerah. Di tangan mereka, masa depan hijau Pulau Bunyu sedang dipertaruhkan. Dan tampaknya, masa depan itu berada di tangan yang tepat. (*)

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel antarakita.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jaksa Belum Siap, Sidang Tuntutan Kasus “Asap Sampah” Mbah Jimah Resmi Ditunda
Diplomasi Lontong Opor Pak Pangat: Cara Bupati Blora “Menaklukkan” Lidah Pejabat Pusat
Blora Menggandeng UNISMA
Hebat! 23 Mahasiswa Sorong Lolos Masuk ‘Kawah Candradimuka’ Pertamina
Tragedi Tali Kuning di Blandar Rumah Blora: Ibu Nekat Akhiri Hidup demi Anak Masuk Ponpes
Almamater, Penghargaan, dan Cara Mas Arief Menggandeng Wamenkop
Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai, BPS Blora Gaungkan Jurus ‘TIR’
Beras Rutan, Mimpi Jakarta

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 04:57 WIB

Jaksa Belum Siap, Sidang Tuntutan Kasus “Asap Sampah” Mbah Jimah Resmi Ditunda

Senin, 20 Juli 2026 - 02:51 WIB

Diplomasi Lontong Opor Pak Pangat: Cara Bupati Blora “Menaklukkan” Lidah Pejabat Pusat

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:51 WIB

Hebat! 23 Mahasiswa Sorong Lolos Masuk ‘Kawah Candradimuka’ Pertamina

Selasa, 23 Juni 2026 - 07:22 WIB

Tragedi Tali Kuning di Blandar Rumah Blora: Ibu Nekat Akhiri Hidup demi Anak Masuk Ponpes

Senin, 22 Juni 2026 - 14:35 WIB

Almamater, Penghargaan, dan Cara Mas Arief Menggandeng Wamenkop

Berita Terbaru

Pendidikan

Wisuda PEM Akamigas: Anak Cepu Pembuka Jalan

Senin, 20 Jul 2026 - 02:43 WIB