BLORA, ANTARAKITA.CO.ID – API itu datang saat manusia sedang lelap-lelapnya. Senin dini hari (8/6), sekitar pukul dua.
Di Dukuh Wadung, Desa Kedungtuban, Blora, sunyi mendadak pecah. Satiran, salah satu warga di sana, mungkin lupa. Dia tertidur saat sedang memasak nasi di dapur. Sisa api di tungku atau kompor melompat. Menjalar. Menjadi monster yang merah dan ganas.
Dalam sekejap, dua bangunan rumah Satiran ludes. Ikut terpanggang bersama warung pecel dan bengkel motornya—sumber mata pencahariannya sehari-hari. Api yang telanjur membesar tak mau berhenti di situ. Rumah milik Yuliana di sebelahnya ikut habis dilalap. Rumah Sudirman pun tak luput dari jilatan api, meski hanya sebagian.
Dua jam warga dan tim gabungan berjibaku melawan amuk api. Pukul empat subuh, api baru bisa dijinakkan. Tidak ada korban jiwa. Tapi kerugiannya mencapai Rp 275 juta. Angka yang sangat besar bagi peternak, petani, atau pedagang kecil di desa. Habis tak bersisa.
Rabu siang lalu (5/6), suasana haru biru menyelimuti bekas puing-puing gosong itu. Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, datang ke lokasi. Dia tidak sendirian. Dia seret gerbong birokrasinya. Sekda Komang Gede Irawadi, tim Baznas, hingga direksi BPR BKK Blora. Mereka menerobos debu sisa kebakaran.
Perempuan yang akrab disapa Mbak Rini itu langsung menemui para korban. Matanya berkaca-kaca. Dia pegang tangan warga yang wajahnya masih kuyu karena syok.
“Panjenengan yang sabar nggih, karena ini ujian,” kata Mbak Rini, lirih namun menguatkan.
“Yang sudah terjadi mohon diikhlaskan, diterima. Semoga panjenengan semuanya ke depan bisa lebih baik lagi.” terusnya.
Kata-kata “Sabar nggih, ini ujian” itu magis. Diucapkan oleh seorang pemimpin perempuan, rasanya seperti usapan seorang ibu pada anaknya yang sedang menangis. Menyejukkan di tengah hawa Wadung yang masih terasa panas.
Mbak Rini tahu, air mata tidak bisa membangun kembali dinding rumah yang runtuh. Maka, dia bawa “oleh-oleh” konkret.
Baznas Blora langsung mencairkan uang tunai. Satiran, yang rumah dan dua usahanya habis, mendapat Rp 7,5 juta. Dua korban lainnya masing-masing mengantongi Rp 5 juta. Ditambah paket sembako dari OPD Pemkab Blora dan santunan sosial dari BPR BKK Blora.
Cukup? Tentu belum. Membangun rumah zaman sekarang butuh biaya besar.
Tapi di sinilah indahnya hidup di desa. Di saat negara memberikan stimulan dana, masyarakat menyumbang keringat.
Kepala Desa Kedungtuban, Irwan Teguh Pamungkas, tersenyum haru melihat modal sosial warganya yang masih tebal. “Warga langsung gotong royong. Membersihkan puing-puing, membantu mendirikan kembali rumahnya,” kata Irwan dengan bahasa Jawa yang kental.
Gotong royong. Itulah “asuransi” terbaik milik orang desa. Ketika musibah datang, tetangga kanan-kiri tidak menutup pintu. Mereka mengambil cangkul, palu, dan kayu. Bekerja tanpa dibayar.
Usai menyerahkan bantuan, Mbak Setyorini berjalan meninjau tenda darurat yang didirikan BPBD Blora. Dia menyapa warga yang sedang gotong royong mengangkut sisa kayu yang menghitam.
Musibah Wadung adalah pengingat. Betapa tipisnya batas antara tawa dan tangis. Hanya karena perkara memasak nasi yang ditinggal tidur, tiga keluarga harus kehilangan tempat bernaung.
Namun, kedatangan para pejabat yang mau turun ke tanah berlumpur, ditambah kepedulian warga yang saling pikul, membuat puing-puing Wadung tidak lagi terasa terlalu kelam. Selalu ada harapan yang tumbuh di atas tanah yang habis terbakar. (*)











