CEPU, ANTARAKITA.CO.ID – Kalau Anda sedang melintas di kawasan Cepu, Blora, jangan cuma melihat deretan pohon jati atau aroma khas minyak bumi yang tercium dari jauh. Tengoklah ke Gedung Graha Oktana. Jumat lalu, suasana di sana sumringah sekali.
Ada 207 anak muda bertoga resmi dikukuhkan dalam Wisuda ke-55 Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas.
Bukan wisuda biasa. Yang bikin geleng-geleng kepala, 40 persen dari mereka sudah memegang surat kontrak kerja sebelum tali toga dipindahkan dari kiri ke kanan. Angka itu naik tajam dari tahun lalu yang “baru” 27 persen.
Di zaman ketika sarjana melimpah dan cari kerja setengah mati, 82 anak muda ini justru sudah dipinang industri migas papan atas sebelum lulus.
Direktur PEM Akamigas, Dr. Erdila Indriani, punya resepnya: 8+I Link and Match. Bahasa mudahnya, kampus dan industri tak lagi cuma “pacaran” di atas kertas MoU. Industri ikut meracik kurikulum, praktisi turun mengajar, dan mahasiswa wajib magang minimal satu semester penuh. Dosennya pun rutin dikirim ke lapangan agar tidak gagap teknologi teranyar.
Hasilnya, lulusan tidak perlu lagi diajari dari nol. Begitu lulus, langsung siap pakai.
Namun, dari 207 wisudawan itu, bintang panggungnya adalah seorang anak lokal: Achmad Rendy Dwi Yulianto.
Rendy ini putra asli Cepu. Alumni SMA Negeri 1 Cepu. Di Jurusan Teknik Pengolahan Minyak dan Gas, ia menyabet predikat lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna: 3,90! Rendy kuliah lewat jalur beasiswa penuh dari Kementerian ESDM.
Duduk di barisan tamu kehormatan, Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Senyumnya lebar.
Arief tahu betul makna capaian Rendy. Anak daerah, dari sekolah daerah, mendapat beasiswa penuh, lalu membuktikan diri jadi yang terbaik di kampus vokasi migas paling bergengsi di Indonesia. Ini pembuktian: kalau diberi kesempatan, anak-anak daerah bisa melompat setinggi bintang.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Prof. Dr. Ir. Ahmad Erani Yustika, yang hadir mendampingi Bupati, memberi sinyal penting. “Kita tidak bisa lagi hanya membusungkan dada karena punya cadangan alam,” tegasnya. Sumber daya alam tanpa teknologi dan sains cuma akan jadi penonton di rumah sendiri.
PEM Akamigas sendiri tak mau berhenti di situ. Kampus ini sedang bersiap ekspansi besar-besaran. Dari 1.543 mahasiswa saat ini, mereka menargetkan 4.500 mahasiswa pada tahun 2030. Laboratorium terpadu seluas 12 hektare di Nglajo mulai dibangun, lengkap dengan rencana pembukaan program studi energi terbarukan.
Langkah ini klop dengan kebutuhan industri global yang terus berubah. Rendy sudah membuktikan jalan itu ada. Kini tinggal bagaimana ribuan anak muda Blora dan daerah lainnya berani mengambil peluang yang sama. Belajar tekun, menguasai teknologi, dan menguasai masa depan energi nasional. (*)











