SEMARANG, ANTARAKITA.CO.ID – Bupati Blora, Arief Rohman, sedang tersenyum lebar minggu ini. Bukan karena APBD Blora mendadak naik drastis. Bukan pula karena jalanan di Blora mendadak mulus semua dalam semalam.
Ia baru saja pulang dari almamaternya. Universitas Negeri Semarang (UNNES).
Di sana, Mas Arief, begitu ia biasa disapa, tidak sekadar datang untuk bernostalgia atau reuni tipis-tipis. Ia dipanggil ke panggung. Diberi penghargaan mentereng. Impactful UNNES Alumni Award 2026.
Bahasa gampangnya, penghargaan untuk alumni yang kerjanya benar-benar dirasakan dampaknya oleh rakyat. Dalam hal ini, rakyat Blora.
SPs UNNES rupanya jeli. Mereka melihat kiprah kadernya di birokrasi bukan tipe pejabat yang suka duduk di balik meja. Mas Arief dinilai mampu membumikan teori kampus yang njlimet menjadi kebijakan daerah yang riil.
Tapi dasar Mas Arief. Ketemu banyak tokoh di acara Alumni Partnership Meeting itu tidak disia-siakannya hanya untuk foto-foto pegang piala.
Matanya langsung melirik kanan-kiri. Di sana ada Farida Farichah, Wakil Menteri Koperasi RI. Ada juga Irjen Pol Susilo Teguh Raharjo, Kepala Satgas Pusat Studi Kepolisian. Dan tentu saja sang tuan rumah, Direktur SPs UNNES Prof. Dr. Fathur Rokhman. Semuanya ternyata satu gerbong. Sama-sama alumni UNNES.
Maka, ruang pertemuan itu langsung disulap Mas Arief menjadi meja negosiasi terselubung. Konkrit. Targetnya jelas. UMKM dan koperasi di Blora harus naik kelas.
“Melalui kemitraan alumni yang solid seperti ini, kita berharap dapat terus mendorong program pemberdayaan UMKM dan koperasi,” kata Arief.
Bagi Arief, kampus itu jangan hanya jadi pabrik ijazah. Atau tempat menyimpan tumpukan kertas skripsi dan tesis yang berdebu di perpustakaan. Kampus harus jadi inkubator inovasi. Konsepnya harus bisa dipakai untuk jualan produk perajin di pelosok Blora. Harus bisa bikin warung-warung kecil bertahan di tengah gempuran zaman.
Tantangan ekonomi ke depan tidak makin mudah. Teori di atas kertas sering kali keok begitu berhadapan dengan realita di pasar rakyat.
Sinergi. Itulah kata kuncinya. Akademisi punya ilmunya, praktisi punya jalurnya, pemerintah punya kebijakannya. Kalau tiga ini digabung, hasilnya dahsyat.
Mas Arief pulang ke Blora tidak hanya membawa pulang plakat penghargaan yang berat. Ia membawa oleh-oleh yang lebih penting. Komitmen jaringan alumni untuk kemajuan UMKM Blora.
Penghargaan itu bonus. Dampak bagi masyarakat, itu baru yang utama. (*)











