BLORA, ANTARAKITA.CO.ID – Saya selalu suka kejutan dari balik jeruji besi. Hari ini, Kamis (11/6), di Kelurahan Kauman, Kecamatan Blora, ada pemandangan yang membuat hati adem. Hamparan sawah seluas satu hektare lebih. Tepatnya 10.120 meter persegi padi menguning dengan indahnya. Siapa yang menanam? Warga binaan dan pihak lain. Penghuni Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Blora.
Hebatnya lagi, mereka baru saja panen padi varietas M70. Ditanam sejak 18 Maret lalu. Tiga bulan dirawat dengan peluh dan harapan, kemarin ketukan sabit pertama dimulai.
Tapi, cerita ini bukan soal panen biasa. Ini soal masa depan yang digagas oleh Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini. Orang Blora akrab menyapanya Budhe Rini.
Budhe Rini ini rupanya punya penciuman bisnis dan visi sosial yang tajam. Saat hadir di sawah itu, dia menantang Kepala Rutan Blora, Sugito. Tantangannya tidak main-main: Jangan cuma tanam padi biasa. Ayo bikin padi organik!
“Bisa dicoba dulu di lahan kecil,” kata Budhe Rini. Beliau ini rupanya juga penggemar berat produk organik.
Saya membayangkan prosesnya. Dan Budhe Rini memikirkan hal yang sama. Warga binaan harus dilatih dari nol. Bagaimana membuat pupuk kompos sendiri, bagaimana merawat padi tanpa sentuhan zat kimia setetes pun. Murni. Alami.
Mengapa harus organik? Jawabannya sederhana. Pasar.
Budhe Rini sudah punya peta di kepalanya. Kalau Rutan Blora sukses bikin padi organik, beliau sendiri yang akan pasang badan. “Akan saya sampaikan kepada Pak Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Kalau berhasil, bisa didistribusikan ke Jakarta,” ujarnya optimis.
Bayangkan. Beras organik premium, berlabel “Karya Warga Binaan Rutan Blora”, nampang di supermarket-supermarket mewah Jakarta. Luar biasa. Orang kota yang peduli kesehatan akan memburunya.
Rutan zaman sekarang memang sudah berubah. Dulu, rutan adalah tempat orang merenungi kesalahan dengan pasif. Menghitung hari di balik teruji. Sekarang? Rutan sudah menjelma jadi pusat pelatihan dan produktivitas.
Mardi Santoso, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Jawa Tengah, tersenyum lebar melihat ini. Ini bukan sekadar program rutan, katanya. Ini adalah implementasi dari Asta Cita Presiden kita untuk ketahanan pangan nasional. Klop. Sinkron dari pusat sampai ke daerah.
Di dalam Rutan Blora sendiri, ternyata suasananya sudah mirip ladang subur. Ada cabai, terong, kangkung, bahkan peternakan ayam. Semua bergerak. Semua produktif.
Hari ini, Bupati Blora Arief Rohman memang berhalangan hadir. Beliau harus ke Semarang dan menerima tamu dari pusat. Tapi, lewat Budhe Rini, titipan apresiasinya sangat tinggi. Bupati ingin, begitu bebas nanti, para warga binaan ini tidak bingung mau kerja apa. Mereka sudah punya modal paling berharga: skill dan etos kerja.
Tentu, Rutan tidak berjalan sendiri. Di belakangnya ada Dinas Pertanian Blora dan PT Riset Perkebunan Nusantara yang setia mendampingi secara teknis. Sinergi yang cantik.
Saya angkat topi untuk Rutan Blora. Mereka tidak hanya menanam padi, tapi sedang menanam masa depan dan harga diri baru bagi para warga binaan. Dari Blora, melompat ke Jakarta. Mengapa tidak? (*)











