BLORA, ANTARAKITA.CO.ID – Pagi itu, Selasa kemarin, langit Kradenan, Blora, sebenarnya biasa saja. Tapi di dalam sebuah rumah di Dusun Mojorembun, sebuah drama kehidupan berakhir dengan begitu senyap. Begitu tragis.
Seorang ibu. Usianya 41 tahun. Inisialnya M. Dia seorang wiraswasta. Istilah keren untuk siapa saja yang mencoba bertahan hidup dengan keringat sendiri di daerah.
Pukul 04.30 subuh, M sebenarnya masih berada di rumah mertuanya di Kedungtuban. Dia ingin pulang. Berjalan kaki. Jarak antar kecamatan tentu bukan main-main untuk kaki telanjang atau sandal jepit.
Suaminya, R (44), tanggap. “Jangan jalan kaki,” mungkin begitu pikirnya. Sang suami lalu menyalakan sepeda motor. Mengantarkannya pulang.
Itu bentuk perhatian. Bentuk cinta yang sederhana di tingkat bawah.
Mereka sampai di rumah pukul 05.00 pagi. Masih remang-remang. M kemudian meminta suaminya kembali lagi ke rumah orang tua untuk menjemput anak mereka yang berusia 12 tahun. Suami patuh. Berangkatlah dia. Tanpa curiga. Sama sekali tanpa firasat.
Satu jam kemudian, pukul 06.00, sang suami kembali. Pintu dibuka. Dan… degh!
Dunia seperti runtuh. Di blandar kayu penyangga atap ruang keluarga itu, sang istri sudah tergantung. Menggunakan tali tampar plastik warna kuning.
Tangis histeris pecah. Suami dan anak yang baru berumur 12 tahun itu menjerit. Tetangga berdatangan. Polisi datang. Tim medis memeriksa. Kesimpulannya clear: murni bunuh diri. Tidak ada tanda kekerasan.
Mengapa? ini yang membuat dada kita sesak. Polisi, melalui Kasihumas Polres Blora AKP Midiyono, mengungkap dugaannya. Beban pikiran. Masalah ekonomi. Lebih spesifik lagi, sebelum kejadian, pasutri ini sempat berdiskusi pelik.
Tentang apa? Tentang biaya sekolah sang anak yang ingin masuk Pondok Pesantren (Ponpes).
Anak itu punya niat mulia. Ingin nyantri. Ingin belajar agama. Orang tua mana yang tidak bahagia mendengar anaknya ingin masuk ponpes? Di Jawa, anak mau masuk pesantren itu kebanggaan luar biasa. Berkah dunia akhirat.
Tapi, di balik niat mulia itu, ada angka-angka. Ada biaya pendaftaran. Ada uang pangkal. Ada uang bulanan.
Bagi sebagian orang, uang masuk ponpes mungkin hanya seharga ganti ban mobil atau sekali makan malam mewah di Jakarta. Tapi bagi seorang ibu wiraswasta kecil di pelosok Blora, angka itu bisa jadi seperti Gunung Merapi yang runtuh menimpa pundaknya.
Dia ingin anaknya sukses. Dia ingin anaknya jadi anak saleh. Tapi kantongnya kosong. Harapan yang bertabrakan dengan kenyataan finansial sering kali melahirkan ruang gelap di dalam pikiran. Ruang gelap yang sunyi, yang membuat seutas tali tampar kuning terlihat seperti satu-satunya “jalan keluar”.
Kita sering bicara tentang pertumbuhan ekonomi, tentang inflasi yang terkendali, atau tentang Indonesia Emas. Tapi di pojok-pojok desa, ada ibu-ibu yang harus bertaruh nyawa dan kalahhanya karena bingung mencari biaya agar anaknya bisa mengaji.
Jenazah M sudah diserahkan ke keluarga. Sudah dimakamkan. Urusan polisi selesai. Tapi urusan kita sebagai masyarakat, sebagai tetangga, sebagai negara belum selesai.
Anak 12 tahun itu kini kehilangan ibunya. Dan dia tahu, ibunya pergi saat sedang memikirkan masa depan sekolahnya. Beban mental anak itu akan sangat berat.
Semoga ada pesantren yang tergetar hatinya. Yang mau mengetuk pintu rumah di Kradenan itu, lalu memeluk anak tersebut, dan berkata: “Mari ikut kami, nak. Gratis.”
Hanya itu yang bisa menebus kepedihan di blandar rumah Mojorembun pagi kemarin. (*)











