JAKARTA, ANTARAKITA.CO.ID – Blora itu jauh. Letaknya di ujung timur Jawa Tengah. Dikepung hutan jati. Kalau dari Surabaya, Anda harus melipir lewat Bojonegoro lalu menyeberang Bengawan Solo. Kalau dari Semarang, jalurnya meliuk-liuk membelah hutan.
Dulu, Blora diidentikkan dengan daerah kering. Kurang air. Sulit berkembang.
Tapi hari ini, Jumat 12 Juni 2026, Blora melakukan lompatan yang membuat daerah lain terperangah. Bukan soal minyak atau gas, meski daerah itu kaya akan blok Cepu. Ini soal minyak yang paling mahal di dunia: sumber daya manusia.
Bupati Blora, Arief Rohman, terbang ke Jakarta. Tidak sendirian. Dia bawa tim penuh. Ada Wakil Bupati Sri Setyorini, ada Sekda Komang Gede Irawadi, sampai kepala-kepala dinasnya diajak semua.
Tujuannya satu: menyerahkan tanah. Gratis. Tanpa syarat yang njlimet.
Tanahnya tidak tanggung-tanggung, 8,7 hektare! Lokasinya di Kamolan, kawasan Blora Kota. Letak strategis. Dan yang paling penting di era sekarang. Tanah itu sudah clear. Bebas dari status Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Urusan birokrasi yang biasanya ruwet dan bikin vertigo, beres di tangan Arief Rohman.
Tanah itu diserahkan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Untuk apa? Untuk dibangun kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Nama resminya keren: Pusat Kegiatan Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU).
Di Jakarta, prosesi itu disambut hangat. Plt. Sekjen Kemdiktisaintek Prof. Badri Munir Sukoco hadir langsung. Dari UNY, diwakili Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Prof. Soni Nopembri.
Mengapa Blora sampai senekat itu menghibahkan aset daerah yang nilainya miliaran? “Ini investasi jangka panjang,” kata Arief Rohman. Nada suaranya mantap.
Arief punya angka yang mengganjal di hatinya. Saat ini, angka anak-anak Blora yang bisa mengenyam bangku kuliah baru di kisaran 60 persen. Dia tidak puas. Dia ingin angka itu melesat ke 70 persen.
Cara paling cepat adalah dengan mendekatkan kampus ke rumah mereka. Kalau anak Blora harus kuliah ke Jogja, Solo, atau Semarang, biaya kos dan hidupnya mahal. Banyak orang tua yang angkat tangan. Tapi kalau kampusnya ada di Kamolan? Mereka bisa kuliah sambil tetap makan sambel tumpang buatan ibunya di rumah. Hemat banyak.
Arief sudah punya pengalaman sukses sebelumnya. Dia pernah menghibahkan lahan untuk Poltekkes Semarang. Hasilnya bagus. Kini, dia mengulangi formula yang sama dengan skala yang lebih masif bersama UNY. Bahkan, sang bupati sudah menodong: kalau bisa, langsung buka program Pascasarjana!
Pihak UNY pun tidak mau pasif. Dapat tanah matang 8,7 hektare itu seperti ketiban durian runtuh. Tahun ini juga perencanaan dan pembangunan langsung digeber.
Jurusan apa saja yang akan dibuka? Ini yang menarik. UNY tidak sekadar memindahkan jurusan yang “biasa-biasa saja”. Mereka tahu potensi Blora.
Pertama, Ilmu Keolahragaan. Blora itu gudangnya atlet berbakat, tapi sering kurang polesan ilmiah.
Kedua, Teknologi Informasi. Ini mutlak untuk zaman AI sekarang.
Lalu ada rekomendasi emas dari Sekjen Kementerian: jurusan Pariwisata dan Ketahanan Pangan. Klop. Blora punya potensi hutan dan pertanian yang luar biasa, tinggal disentuh dengan sains modern.
Saya bisa membayangkan apa yang terjadi di Kamolan tiga atau empat tahun ke depan.
Begitu tiang pancang ditanam, ekonomi sekitarnya akan langsung bergerak. Dinamis. Rumah-rumah penduduk akan berubah menjadi kos-kosan. Warung makan, kafe tempat mahasiswa berdiskusi, binatu, sampai toko kelontong akan tumbuh bak jamur di musim hujan. Daerah pinggiran yang dulunya sepi akan berubah menjadi episentrum baru yang bising oleh aktivitas intelektual.
Itulah hebatnya industri pendidikan. Dia tidak pernah mati. Dia memicu multiplier effect yang luar biasa bagi ekonomi lokal.
Blora sedang memutus rantai kemiskinan dengan cara yang paling elegan: lewat bangku kuliah. Mereka tidak mau lagi hanya menjadi penonton di pinggiran. Dengan hadirnya UNY, Blora sedang bersiap memimpin revolusi SDM di jalur utara.
Langkah bupati Blora ini ekstrem? Mungkin ya bagi pengamat anggaran yang kaku. Tapi bagi masa depan? Ini adalah keberanian yang visioner.
Kadang, untuk melompat jauh, Anda harus berani melepaskan apa yang Anda genggam hari ini. Blora sudah melepaskan 8,7 hektare tanahnya, untuk mendapatkan masa depan yang tak ternilai harganya.
Maju terus, Blora! (*)











