BLORA, ANTARAKITA.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Blora melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat komitmennya dalam mengatasi persoalan sampah secara komprehensif. Sebagai langkah strategis untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), DLH Blora secara konsisten menggalakkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan serta mengelola sampah langsung dari sumbernya.
Berdasarkan data di lapangan, volume sampah harian yang dihasilkan oleh masyarakat Blora, khususnya dari sektor rumah tangga, tercatat mencapai angka 30 ton per hari. Hal ini disampaikan oleh Subkoordinator Pengelolaan Sampah DLH Blora, Lindung Arum Setiawan belum lama ini.
Menurut Lindung, pengoptimalan keberadaan Bank Sampah dan Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, Recycle (TPS-3R) menjadi instrumen kunci yang dinilai paling efektif untuk mereduksi sampah di tingkat hulu. Melalui program ini, beban volume sampah yang dikirim ke TPA dapat ditekan secara signifikan sekaligus membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat.
“Jika kesadaran akan kebersihan dan pengelolaan sampah sudah baik, tentu nantinya volume sampah akan bisa berkurang. Paling tidak, beban sampah di TPA ini akan menjadi lebih ringan meski tetap ada sisa atau residu yang masuk,” tutur Lindung.
Gerakan Pilah Sampah dari Rumah
Sebagai langkah awal yang aplikatif, DLH Blora mengimbau masyarakat untuk membiasakan gerakan pilah sampah dari rumah. Sampah rumah tangga idealnya dipisahkan antara jenis organik dan anorganik yang bernilai daur ulang. Sampah bernilai ekonomi seperti botol plastik, kardus, dan lainnya dapat dikumpulkan melalui bank sampah terdekat untuk kemudian dijual dan mendatangkan tambahan pemasukan ekonomi.
Sementara itu, untuk penanganan di level kawasan pemukiman, Pemerintah Kabupaten Blora telah menggagas sebanyak 13 titik TPS-3R yang tersebar di berbagai kecamatan dan desa. Fasilitas ini tidak sekadar berfungsi sebagai tempat pembuangan sementara (TPS), melainkan juga mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat.
Guna memperluas cakupan gerakan ini, DLH Blora menyatakan kesiapannya untuk terus mendampingi pembentukan bank sampah di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekolah, kecamatan, hingga tingkat kelurahan dan desa. Langkah jemput bola ini diyakini mampu mengubah pola hidup masyarakat secara berkelanjutan.
“Sampai saat ini bank sampah masih menjadi salah satu sarana utama pengurangan sampah di Kabupaten Blora selain TPS-3R. Selain mengubah kebiasaan dan pola hidup masyarakat, bank sampah juga memberikan manfaat langsung secara ekonomi dan berdampak baik bagi kelestarian lingkungan,” pungkas Lindung. (Ads)
Penulis : Tim Liputan
Editor : Admin











